Ingat PayTren, Ingat Allah. Tausiah Aa Gym di Halal Bihalal PayTren (7-7-2018)

Tausiah Aa Gym di Halal Bihalal PayTren
Ahad, 7 Juli 2018

Bapak Ibu, e-money ini menguntungkan atau tidak, PayTren ini menguntungkan atau tidak, cirinya cuman 4:

  1. Apakah gabung dengan PayTren ini, menggunakan e-money ini nambah iman atau tidak.
    Kalau nanti hanya sibuk menuhankan PayTrennya, sibuk hatinya terikat ke PayTren bukan terikat ke Allah, sibuk bersaing dengan orang bukan bersaing cari kedudukan di sisi Allah berarti rugi.
  2. Apakah dengan adanya PayTren ini amal kita jadi nambah atau tidak?
    Atau belanjaan aja yang banyak, atau harta yang banyak?
    Ngga dibawa… (di alam kubur nanti ngga) ditanya: “Ustad, nanti bawa e-money berapa ke kuburan?”
    “Bawa pulsa berapa ke kuburan?”
    Jangan sampai tidak jadi amal. Kita pasti mati dan ini adalah ladang amal kita.
  3. Tawashou bil haq. Baru akan bermutu kalau adanya PayTren dan emoney ini nambah dakwah kita, ngajak orang jadi lebih baik, bukan hanya masalah uang. Uang mah hanya sekedar kertas pindah bahkan sekarang bukan kertas lagi, iya kan? Cuman ngaku-ngaku saja. Makanya nilai tambah apa yang didapat orang sesudah berinteraksi dengan emoney dan PayTren ini?
  4. Tawashou bisshabr. Harusnya gabung dengan PayTren dan menggunakan emoney ini kualitas kesabaran kita meningkat.
    Semua orang itu terjerumus gara-gara tidak sabar. Sabar itu apa? kemampuan mengendalikan diri.Lihat orang-orang yang tidak terkendali itu, yang matanya tidak terkendali jatuh berzina, yang mulutnya tidak terkendali, termasuk yang keinginannya tidak terkendali. Walaupun sudah hartanya melimpah ruah, kalau keinginan tidak terkendali dia akan menzalimi hak-hak orang lain. Harusnya dengan gabung dengan PayTren kualitas pengendalian diri itu benar-benar prima.

Kita tidak ada masalah dengan rezeki banyak, yang jadi masalah kalau kita diperbudak oleh rezeki yang banyak.

Mau saya kasih kata kuncinya? satu:

JANGAN PERNAH ADA KEMLEKATAN SELAIN ALLAH.

Itu masalahanya. Kalau lebih banyak mikirin PayTren daripada inget Allah, itu udah melekat tuh.

Jadi gimana caranya?

Ingat PayTren, segera ingat Allah

Kalau inget paytren inget duit, inget untung ga inget Allah, rugi. Karena yang menjamin hidup kita adalah Allah, bukan PayTren maupun emoney.

Ilustrasi Kekuatan Sedekah Berjamaah

Kalau 3 juta member setiap pagi sedekah 2.000 rupiah, maka setiap pagi terkumpul 6 Milyar. Satu bulan 180 Milyar, 1 tahun 2 Trilyun. Bisa bikin rumah sakit gratis, bisa bikin sekolah gratis, berapa ribu orang, berapa juta orang dapat beasiswa.

Harus mikirnya keuntungan apa yang didapatkan kaum dhuafa, keuntungan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara yang tidak bisa bergabung dengan PayTren dan tidak bisa merasakan emoney.

Kalau cuman kita yang mersakan keberuntungan, ngga begitu beruntung. Karena keberuntungan kita adalah ketika kita jadi jalan keberuntungan bagi orang lain. Khairunnas Anfa’uhum linnas. (www.iqbalarubi.com)

Semoga apa yang dilakukan ini penuh berkah, mendekatkan kepada Allah, bisa membuat hidup kita penuh manfaat dan tegaknya izzah umat islam. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

Saya bahagia Allah menciptakan Yusuf Masnur ini, doakan supaya lebih banyak air mata taubatnya, doakan supaya lebih banyak air mata syukurnya. Ingat pohon semakin tinggi, anginpun semakin kencang dan yang paling berbahaya bukan angin kencang, (tapi) angin sepoi-sepoi.

Angin kencang bikin monyet pegang erat, angin sepoi-sepoi bikin monyet ngantuk. Jatuhnya itu karena ngantuk.

Saya pernah diuji dengan pujian, kekaguman orang dan itu menjadi bencana. Tapi ketika diuji dengan caci maki penghinaan malah itu yang menguatkan. Kata guru saya ada 2 cara untuk menjadi kekasih Allah:

  1. Air mata taubat
  2. Air mata syukur

Kalau diberi nikmat banyak bersyukur, maka dia mencapai kedudukan tinggi di sisi Allah karena air mata syukur. Kalau dia tidak bisa syukur biasanya ditarik dengan musibah supaya keluar air mata taubatnya.

Saya berharap Ust. Yusuf Mansur tidak usah merasakan air mata babak belur. Makanya banyaklah menangisi pertolongan Allah.

Tidak ada yang membuat semua ini mudah kecuali satu-satunya: pertolongan Allah semata. Mudah-mudahan kita tidak pernah merasa berjasa, karena Allah lah yang maha berjasa.

Sekian. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

-Transkrip oleh Iqbal Arubi-

Lihat video lengkapnya di sini, atau bisa lihat postingan saya di facebook di bawah ini :

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fsajakpena%2Fvideos%2F10217320227103500%2F&show_text=1&width=267

Advertisements

Harga Daging Melonjak, Singa di Ragunan Jadi Vegetarian!

JAKARTA—Pengunjung Taman Margasatwa Ragunan dikejutkan oleh tingkah seekor Singa Afrika. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu(05/09) siang hari. Singa betina yang nampak gelisah itu, tiba-tiba mendekati tumbuhan eceng gondok yang ada di sekitar kandangnya.

Menurut salah seorang saksi mata, singa tersebut kemudian seperti mencicipi eceng gondok yang menutupi permukaan sungai.

Continue reading

5 Menit lagi

Lima menit lagi. Jarum jam panjang dan pendek semakin merapat, sepakat ingin bertemu di angka 12. Jarak antara kedua kelopak mataku pun semakin menyempit, ingin segera melepas penat.

Satu demi satu penghuni stasiun telah menghilang, hanya tersisa dua orang portir—pemeriksa tiket—dan petugas keamanan. Namun rasanya aku tak ingin segera pulang. Sejenak menikmati suasana hening di ruang tunggu stasiun, sepertinya menyenangkan. Sembari mengingat-ingat kenangan selama liburan.

Beberapa jam yang lalu, aku baru saja mengantarkan ayahku ke stasiun, pulang ke kampung halaman. Setelah hampir 2 minggu menjengukku sekaligus berlibur di Kota Kembang.

Masih teringat gemuruh tembok-tembok yang bersuara, ketika berpuluh manusia berbaris dalam antrian, juga bunyi-bunyian dari pengeras suara yang memanggil nomor urut mereka. Tepat dua jam yang lalu, menjelang menit-menit terakhir yang sama.

Continue reading

Sandaran Hati Sebelum Cahaya

I’ve been wrong all this time…

Alhamdulillah hari ini dapat hikmah baru, tentang pentingnya filosofi dan makna. Yang ketika kita benar-benar memahaminya, itu akan merubah pandangan kita terhadap segala sesuatu menjadi jauh berbeda dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan sebelumnya.

Seperti, apa sebenarnya makna dari ritual-ritual dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat, yang boleh jadi hanya kita ketahui sebagai sebuah “keharusan” yang itu akan jadi sebuah “dosa” jika tidak dilakukan. Atau apa sebenarnya maksud dari simbol-simbol, tanda-tanda yang kita temukan di kehidupan sehari-hari. Baik yang dilandasi karena keyakinan pribadi atau sekedar ikutan sana-sini. Kurang lebih begini ceritanya…

Continue reading

Menyempurnakan TakdirNya

Di sebuah desa, kumenemukan sebuah surat tanpa nama. Mungkin pemiliknya lupa, atau sengaja meninggalkannya. Nampaknya ia sudah sedemikian putus asa, hingga tak mampu berkata-kata, hanya bercerita lewat aksara.

Aku sedikit banyak mengenali isinya. Sepertinya sang empunya adalah seorang wanita. Entahlah, mungkin aku salah. Sebab kata-kata yang ditulis dengan tinta itu sedikit luntur oleh tetesan air, padahal hari itu sama sekali tak ada tanda bahwa hujan akan menyapa.

Aku terus mengamati tulisan dalam surat itu, lembaran kertas putih yang sedikit ternoda oleh tanah. Pinggirannya tak beraturan, seperti dilepaskan dengan ragu-ragu dari tempatnya. Di bagian tengahnya nampak banyak lipatan, juga kerutan. Mungkin tadinya ia bermaksud memberikan surat itu pada seseorang, tapi diurungkannya.

Bersyukur, Allah menakdirkanku menemukannya. Sebab andaikan tak berjumpa dengannya, mungkin akulah yang kelak menuliskannya sepulang dari desa ini. Continue reading

Noda Kemeja

Langit sedang marah. Kata-katanya bergemuruh, lebih kencang dari suara penyedot debu yang hampir dimuseumkan itu. Tidak jelas apa yang sedang diributkannya, mungkin sisa-sisa pembakaran hutan oleh para penyamun di lereng gunung tadi pagi. Atau, mengutuk asap knalpot yang lupa aku periksa seminggu kemarin?

Hampir setiap menit tangan-tangan ganas awan kumulus menampari awan-awan di bawahnya yang lebih lembut. Membuatnya berteriak. Teriakan yang menggelisahkan, mengingatku bahwa dalam waktu kurang dari 24 jam, surat pengajuan kontrak untuk tender gedung DPRD ini harus segera ditandatangani.

Dan malam ini akan jadi malam paling meresahkan, lebih-lebih karena istriku yang seminggu lebih terbaring di rumah sakit, membutuhkan uang untuk operasi.

Continue reading

Tawaran Spesial

Kembali Aku menagih janji Tuhan—setelah sekian lama menunggu—untuk memberiku jawaban dari segala keresahan. Kebimbangan atas rasa penasaran yang terus diburu waktu. Waktu yang setiap detiknya membuatku ragu, “Haruskah aku menerima tawaran ini?”

Sinta, masih terekam jelas kegelisahanmu karena tak setuju atas perjodohanmu denganku. Pun begitu denganku, ada rasa yang menyeruak seketika kumembaca surat itu. Surat yang bertuliskan tangan lengkap dengan tandatangan orangtuamu.

“Putri kami ini adalah satu-satunya bidadari kecil yang ada di rumah. Sayang, bila sampai akhir hayat kami nanti, ia masih sendiri dan kedua sayapnya tak ada yang melengkapi.

Mas, kami lihat Mas Tenri ini adalah orang yang pantas untuk menemaninya di keluarga nanti. Maka dengan segala kerendahan hati, kami menawarkan posisi yang lebih tinggi dari pekerjaan Mas sekarang. Menjadi pemimpin perusahaan keluarga, keluarga yang dibangun bersama putri kami ini.

Kami sudah siapkan segala sesuatunya, tinggal kesediaan dari Mas sendiri untuk segera menempati posisi penting ini.

Sudilah kiranya nak Mas menerima tawaran kami.”

Begitulah kurang lebih isi surat itu, penuh khidmat dan kerendahan hati. Intinya, jauh lebih elegan dibanding tawaran serupa dari ibu kosan—yang entahlah harus kusebut bercanda atau sungguhan—2 bulan yang lalu. Continue reading

Marilah Melangkah

Aku tidak pernah—atau setidaknya belum—tahu apa yang akan membuatku bertahan, berjalan seirama menemani langkahmu di jalan penuh liku ini. Mungkin suatu saat aku akan ragu, sama sepertimu sebelum memutuskan untuk mendatangiku. Bahkan mungkin jauh lebih bimbang, dibanding saat pertama kau menanyakan kesiapanku.

Aku yang terlahir dengan segala keterbatasan ini, tentu saja mengharapkan siapapun yang kelak bersedia menemani, sudah siap dengan segala ketidakmungkinan. Dan yang jauh lebih penting lagi, siap menerima konsekuensi apapun yang lahir dari keajabian nan mustahil.

Bukan keajaiban namanya, bila tak menyisakan sebuah tanya. Begitupun dengan hadirmu yang bagiku adalah sebuah keajaiban. Betapa tidak, ketika seisi dunia menolak, masih saja ada yang menerima, dan itu adalah dirimu. Maka aku pun bertanya, “Benarkah apa yang kamu katakan itu? Kamu yakin, tak salah memilihku?”

Continue reading

Pemuda beruntung dan Toko Bunga

Tersebutlah sebuah toko bunga yang terkenal di sudut kota Kembang. Toko ini terkenal dengan koleksinya yang unik dan lengkap. Hampir semua jenis bunga di seluruh dunia ada di sana. Mulai dari: mawar, bugenvil, petunia, azalia, dan sebagainya. Sungguh tempat yang luar biasa, apalagi bagi mereka para penyuka bunga.

Suatu ketika, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Kembang yang ke-sekian kalinya, toko ini bermaksud memberikan hadiah kepada para pembelinya, yaitu dengan memberikan diskon bahkan bunga gratis kepada pengunjung yang beruntung pada hari itu.

Demi mendengar berita itu, penduduk pun berbondong-bondong untuk mengunjungi toko, bahkan tidak sedikit yang datang dari luar kota. Semua orang berharap untuk mendapatkan kesempatan yang langka tersebut.

Continue reading

Bagai Bunga Merindukan Ketinggian

Tak perlu menjadi tinggi untuk bisa sempurna
Sebab kesempurnaan selalu ada di tempat yang seharusnya
Ia bisa menemukan tempatnya sendiri, meski beragam upaya menutupi

Sebab kesempurnaan itu sederhana, tak pernah rumit
Yang rumit adalah kita, yang selalu sibuk mencarinya

Kesederhanaan yang tumbuh apa adanya,
manjadikanmu tinggi dengan sendirinya
Sedangkan tinggi yang dibangun secara tiba-tiba,
menjadikanmu kosong dan rapuh tak bermakna
***
Dia kuasa mencipta yang rumit dan canggih dengan sederhana
Sedang kita mencipta yang sederhana saja, demikian rumitnya
Maka pantaskah kita jumawa?

Bandung, 1 November 2015

*Selalu suka mengabadikan langit dengan bunga di tepi Danau ini. Ada yang tahu apa namanya? 🙂

#flower #simple #instagood #bunga #merah #sundaymorning

View on Path

Kehilangan Sandal

Oleh: Ustadz Yusuf Mansur

image

Sama. Saya juga sering kehilangan. Kemaren santri tertawa kecil, bersama kawan-kawannya…

“Subhaanallaah… Sendal udah digembok, masih hilang juga…” kata santri tersebut. Sambil nunjukin kuncinya tuh gembok.

Kawan-kawannya ikut tertawa. Saya mendengar dari belakang… Saya berdehem…

“Ehhhmmm… Apa hikmahnya…?”

Continue reading

Gara-gara Pilot dan Pramugari, Penumpang Ini Hampir Gagal Terbang ke Jakarta

Penerbangan Semarang – Jakarta yang sudah bersiap take off, terpaksa ditunda gara-gara ulah seorang penumpang bernama Paijo, Wong Pacitan yang baru pertama kali naik pesawat.

Pasalnya, Beliau naik dengan tiket ekonomi, tapi ngotot pingin duduk di kelas bisnis. Ia pun duduk di tempat yang ia mau, di barisan depan.

Jarno, salah seorang penumpang kursi bisnis protes, karena tempat duduknya ditempati Pak Paijo.

Continue reading